Jangan Cetak Kartu Vaksin, Ini Alasannya!

J

Pandemi COVID-19 sudah hampir dua tahun lamanya. Banyak kebiasaan baru yang mesti kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus corona atau SARS-Cov2. Misalnya saja menerapkan protokol kesehatan yang ketat, hingga mengikuti arahan pemerintah untuk divaksin. Saat ini warga Indonesia telah banyak mengikuti program vaksin tersebut. 

Dilansir dari katadata.com per 13 November, bahwa vaksinasi telah dilakukan sebanyak 62,28% dari 208.265.720 untuk dosis pertama, atau bisa diartikan jumlah 129.710.190 jiwa telah diberi vaksin. Sedangkan untuk dosis kedua sebanyak 40,05% atau 83.418.086 jiwa dari 208.265.720 yang telah divaksin.

Program vaksinasi menjadi fokus pemerintah untuk mencapai herd immunity di dalam masyarakat. Sejalan dengan keberhasilan program ini, munculah masalah baru yang cukup krusial terkait kartu vaksin. Bahkan baru-baru ini Kemendag telah memblokir beberapa marketplace yang menjual jasa cetak kartu vaksin COVID-19. 

Pencetakan kartu vaksin ini menjadi problematik, karena masalah keamanan data pribadi warga. Banyak informasi penting di dalam QR code yang tertera di kartu vaksin, sehingga rawan bila terjadi penyalahgunaan data atau pencurian data untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Lalu apa sebab penyebab kartu vaksin tidak boleh dicetak? Data apa saja yang bisa dicuri jika mencetak kartu vaksin ini?

Alasan kartu vaksin jangan dicetak

Beresiko Bocornya Data Pribadi

Bila mencetak sertifikat vaksin untuk dijadikan kartu, artinya perlu disadari bahwa di dalamnya terdapat informasi penting terkait data pribadi si pemilik. Oleh karena itu, jika kartu tersebut dibawa saat beraktivitas di luar rumah, haruslah dijaga sebaik mungkin. Sebab di dalam kartu vaksin terdapat informasi data pribadi berupa:

  • Nama lengkap pemilik kartu
  • Nomor Induk Kependudukan (KTP)
  • Tanggal Lahir
  • Kode Batang (QR Code)
  • ID
  • Tanggal pemberian vaksin
  • Informasi pemberian vaksin dosis 1/2
  • Merek vaksin yang digunakan
  • Nomor batch vaksin
  • Pernyataan kesesuaian dengan peraturan Menteri Kesehatan Indonesia

Data-data tersebut tidak boleh sampai bocor, karena akan mengundang kejahatan siber seperti pinjaman online dan kriminalitas lainnya. 

Rawan Terkena Penipuan Era Digital

Bocornya data pribadi yang tertera di kartu vaksin seperti nama lengkap, alamat, dan tanggal lahir beresiko untuk disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya tersandung kasus scam serta phising. Scam merupakan penipuan yang berusaha untuk memberitahu dan meyakinkan pengguna, bila Ia telah memenangkan sebuah hadiah, sehingga perlu mengirim sejumlah uang untuk mendapatkannya. 

Berbeda dengan phising, tindak penipuan ini lebih mengarah pada bujukan untuk memberikan data pribadi, sehingga pengguna tidak menyadari telah diarahkan pada situs palsu. Bila seseorang telah berhasil diarahkan ke situs tersebut, maka pengguna akan diminta mengisi ulang  data akun yang telah dimiliki sebelumnya. Hasilnya pelaku akan dengan mudah mengetahui password akun tersebut.

Data-data tersebut perlu untuk kita jaga, agar tidak terjerumus pada kejahatan digital yang sudah marak terjadi. Pun sekarang sudah tersedia aplikasi PeduliLindungi yang disediakan oleh Pemerintah. Sehingga akses untuk melakukan apapun dan dimanapun tetap aman dan nyaman. 

About the author

Autobild
By Autobild

Autobild

Get in touch

Quickly communicate covalent niche markets for maintainable sources. Collaboratively harness resource sucking experiences whereas cost effective meta-services.